Syarah Hadist Arbain #35

Kajian Muslimah
Masjid Daarut Tauhiid Jakarta
Sabtu, 19 Rabi’ul Awwal 1441H / 16 November 2019M
🧕 Ustadzah Erika Suryani Dewi Lc.

‎عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ [رواه مسلم]

dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian saling hasad, jangan bersikap najasy (memuji barang dagangan berlebihan atau menaikkan (tawaran) harganya padahal tidak bermaksud membelinya), jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, janganlah seseorang menjual di atas penjualan saudaranya. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim (lainnya). Tidak boleh mendzhalimi, tidak menelantarkannya, tidak merendahkannya. Ketakwaan itu di sini >> Nabi mengisyaratkan kepada dada beliau tiga kali. (Nabi bersabda): << Cukuplah seseorang melakukan keburukan jika ia merendahkan saudaranya muslim. Setiap muslim haram (sangat mulia) darah, harta, dan kehormatannya bagi muslim yang lain >> (H.R Muslim)

Dengki (ada iri) & benci = mirip
Iri = kita menginginkan nikmat yang sama dari saudara/I kita
Diantara Iri yang diperbolehkan ialah iri Ghibthah, iri kepada saudara kita yang rajin qiamulail, mudah bersedekah, dapat menghafal al-quran
Dengki/hikd = kita menginginkan nikmat saudara/I kita hilang atau berpindah kepada kita, dan ini lebih berbahaya
Dengki ini memakan amal soleh kita, memakan pahala tanpa disadari.

Point:
*Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim (lainnya). Tidak boleh mendzhalimi, tidak menelantarkannya, tidak merendahkannya.
Indahnya Islam mengatur bagaimana adab menjual beli, meminang dan dipinang, terkecuali kedua nya saling ridho dan saling berkomunikasi agar tidak zalim*

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”

‎فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ »

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?

Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari, no. 6952; Muslim, no. 2584)

Point:
Ketakwaan itu di sini >> Nabi mengisyaratkan kepada dada beliau tiga kali. (Nabi bersabda): << Cukuplah seseorang melakukan keburukan jika ia merendahkan saudaranya muslim. Setiap muslim haram (sangat mulia) darah, harta, dan kehormatannya bagi muslim yang lain >> (H.R Muslim)

Antara luar dan dalam itu harus sama outputnya, kalau tidak itu tergolong orang munafik. Seseorang muslim harus sama dan paten outputnya. Jika tergantung hati, semua ucapan, dan tindakan harus sama baik nya, kalau tidak itu tergolong munafik.

Cukup seseorang tersebut dikategorikan jahat, penjahat, oleh Allah jika dia menghina, mencela dan melecehkan saudara sesama muslim, darahnya haram (mulia) dan kehormatannya patut dijaga. Ini yang hilang pada zaman saat ini.

Tolak ukur takwa: amal perbuatan yang keluar dari lisan dan perilaku yang meninggalkan larangan dan melakukan perintah Allah agar diampuni dosa
Kita sebagai manusia, nilailah orang dari apa yang tampak saja.
Kemuliaan itu diukur dari taqwa, bukan gaji dan posisi.

Larangan hasad & dengki:
Definisi Hasad atau dengki adalah menginginkan nikmat yang dimiliki orang lain dan menghendaki nikmat tersebut berpindah kepada dirinya.Hukumnya: haram (tidak diperbolehkan-dosa)
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah hasad (dengki), karena hasad akan menghanguskan kebaikan-kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar.” (HR Abu Dawud)

Hikmah:
1. Merupakan bentuk ketidak ridhoan terhadap takdir, (mengeluh dengan keadaan sendiri). Hamba terbaik merupakan hamba yang ridho terhadap takdir dirinya dan orang lain
2. Hasad/Dengki membuat jiwa Lelah dan letih, mengundang kesedihan dalam hati
3. Perilaku hina karena memakan pahala secara cepat

Hadiah menumbuhkan cinta yang berarti akan mengusir kebencian, permusuhan, dan kedengkian di dalam hati.

‎تَهَادُوْا، فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تَُذْهِبُ بِالسَّخِيمَةِ

“Saling menghadiahilah kalian karena sesungguhnya hadiah itu akan mencabut/menghilangkan kedengkian.” (HR. Ibnu Mandah)

Point:
*Larangan bersikap najasy (memuji barang dagangan berlebihan atau menaikkan (tawaran) harganya padahal tidak bermaksud membelinya), sama dengan pemakan riba hukumnya haram dan jual-beli yang mengandung unsur ini dianggap batal akadnya dan hilang barokah.*

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101]

Larangan & Haramnya saling membenci kepada sesama muslim:
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat: 9-10).

Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian tentang shadaqah yang dicintai oleh Allah dan RasulNya?. Yaitu engkau mendamaikan antara manusia jika mereka saling marah dan hubungan mereka telah rusak”.
Tidak mungkin disebut beriman jika isi hatinya adalah benci.

‘Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam’. “(HR. Muslim, Hadits No. 2560).

Mencintai karena Allah merupakan bukti kesempurnaan iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih dikeluarkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya:
‎مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barangsiapa mencintai orang lain karena Allah, membenci orang lain karena Allah, ia memberi kepada orang lain karena Allah dan tidak memberi juga karena Allah, maka sungguh imannya telah sempurna.” (HR. Abu Dawud)

Ada waktunya bertemu dan berpisah karena Allah.
Semoga Allah menjaga kita dari sifat-sifat buruk akhir zaman ini.

Wallahu a’lam bisshowab

/Nita Septiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here